Selamat Datang di Blogs KKG Gugus 1 Cikembar
Latest Posts

Pemberitahuan

Assalamualikum..WWB

Bagi semua peserta KKG Bermutu Gugus 1 Cikembar
dimohon untuk segera mengumpulkan tugas  tagihan ke sekretariat.
Untuk pembuatan PTK dapat dikumpulkan berbentuk File.




 Terimakasih,,
atas kerjasamanya
read more...

Daftar Peserta KKG GUGUS 1 Cikembar

No Nama Guru E.Mail
1 Efi Supaedah, S.Pd efisufaedah@yahoo.co.id
2 Rubiyatin, S.Pd.SD rubiyatin28@yahoo.co.id
3 Teti Heryanti, S.Pd.SD tetiharyanti34@yahoo.com
4 Gustaf Galoni,S.Pd. gustafgaloni@yahoo.co.id
5 Ai Dahlia, S.Pd .SD aidahlia70@yahoo.co.id
6 Kicah Sartika kicahsartika@yahoo.co.id
7 Suwenti suwentim@yahoo.co.id
8 Jejen, S.Pd.I jejens98@yahoo.com
9 Dede Sumardi, S.Pd.SD dedesumardi99@yahoo.co.id
10 Usman Jalaludin,S.Pd.SD usman.jalaludin@yahoo.co.id
11 Ely Sartika, S.Pd.I elysartika77@yahoo.co.id
12 Ade Sobarna ade_sobarna@yahoo.co.id
13 Rohyati kkg.rohayati@yahoo.com
14 TH Susilah Sw thsusilasw@yahoo.co.id
15 Imas Hendrayati, S.Pd imas.hendrayati@yahoo.co.id
16 Enoh Sumantri, S.Pd enohsumantri@yahoo.co.id
17 Aji Sutarji, S.Pd ajisutarji59@yahoo.co.id
18 Rahmat Santoso, S.Pd.SD rahmat.santoso63@yahoo.co.id
19 Ani Rohani, S.Pd anirohani20@yahoo.co.id
20 Sri Paridayanti, S.Pd sriparidayanti@yahoo.co.id
21 Yeti Nurhayati, S.Pd yetinurhayati29@yahoo.co.id
22 Erni Suherni, S.Pd.SD ernisuhaeni41@yahoo.co.id
23 Ade kuswandi, S.Pd adekuswandispd@yahoo.co.id
24 Itang Afendi itangafendi@yahoo.co.id
25 Darwati darwati012@yahoo.com
26 Edi Muharyadi, S.Pd edimuharyadi@yahoo.co.id
27 Iis Suryati iissuryatispd@yahoo.co.id
28 Suherli suherlispd04@yahoo.co.id
29 Muhtar Efendi, S.Pd muhatrefendispd@yahoo.co.id
30 Wawan Ridwan, S.Pd wawanridwanspd@yahoo.com
31 Abin abinspd@yahoo.co.id
32 Ambiyati ambiyatispd@yahoo.co.id
33 Sukanda sukanda04@yahoo.co.id
34 Hendrawan sukanda09@yahoo.co.id
35 Aep Saepudin, S.Pd aepsaepudinspd@yahoo.co.id
36 Supriatiningsih, S.Pd. supriatiningsihspd@yahoo.co.id
37 Rukmini rukminiamapd@yahoo.co.id
38 Sukanta sukantaspd@yahoo.co.id
39 Yayan Triani, S.P.d yayantrianispd@yahoo.co.id
40 Ade Supriadi adesupriadispd@yahoo.co.id
41 Rukminarsih rukminarsih@yahoo.co.id
42 A. Sumaryati sumaryatispd@yahoo.co.id
43 Suprihatin, S.Pd suprihatinspd04@yahoo.co.id
44 Rodiyah rodiah09@yahoo.co.id
45 Sutiati Rohani, S.Pd sutiatirohani@yahoo.co.id
46 Emur Murniati emurmurniati@yahoo.co.id
47 Mimin Halimah miminhalimahspd@yahoo.co.id
48 Dedi Supriadi dedisupriadispd@yahoo.co.id
49 Holiah holiah09@yahoo.co.id
50 Neneng Emawati, S.Pd nenengemawati@yahoo.co.id
51 Sadiah sadiahspd@yahoo.co.id
52 Saepudin, S.Pd.SD saepudinspd02@yahoo.co.id
53 Suparman, S.Pd suparmanspd45@yahoo.co.id
54 Nurhasanah, S.Pd nurhasanahspd05@yahoo.co.id
55 Imas Sulaetiningsih imassulaetiningsih@yahoo.co.id
56 Neneng Beti.R nenengbeti@yahoo.co.id
57 Rodiah rodiahspd08@yahoo.co.id
58 Suhendar, S.Pd suhendarspd02@yahoo.co.id
59 Wahyudin, S.Pd wahyudinspd09@yahoo.co.id
60 Hamami hamamispd@yahoo.co.id
read more...

Perubahan Kurikulum Dapat Menentukan Nasib Baik Hasil Pendidikan


Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): TAUFIK
Saya Pengamat di MAKASSAR
Tanggal: 30 OKTOBER 2002
Judul Artikel: Perubahan Kurikulum Dapat Menentukan Nasib Baik Hasil Pendidikan
Topik: KURIKULUM SEBAGAI ACUAN DASAR PENDIDIKAN NASIONAL
Artikel:
Sampai sekarang pendidikan kita masih compang-camping karena sering terjadi perubahan kurikulum. Setiap pergantian menteri maka pasti terjadi perubahan yang buntutnya malah membuat bingung pelaku pendidikan. Padahal kurikulum seharusnya tidak boleh berubah, ibaratnya pejabat berikutnya tinggal melanjutkan apa yang telah ditinggalkan oleh pendahulunya, tetapi mungkin karena rasa gengsi yang salah kaprah dari beliaunya sehingga agak malu hati jika tidak melakukan perubahan, alias ingin disebut meninggalkan jasa kelak. Sedikit panas dan memerahkan telinga memang ,tapi inilah kenyataan.
Seharusnya sebuah kurikulum dipatenkan selama beberapa lama agar dapat dilihat hasil dari pembelajaran tersebut. Jika kita melihat kenegara lain yang lebih maju, mereka memiliki SDM yang bagus, itu karena siswa mereka tidak dibuat bingung oleh perubahan yang begitu cepat. Kurikulum yang lama belum terserap langsung sudah terganti. Hal lain adalah banyaknya pemborosan biaya pendidikan termasuk untuk mencetak buku-buku yang pada akhirnya tidak terpakai,padahal seharusnya dapat digunakan untuk membiayai bidang-bidang lain dalam sektor pendidikan misalnya kesejahteraan guru, sehingga tidak akan terdengar lagi nada miris tentang nasib guru yang nyambi kerja jadi tukang ojek untuk mempertahankan asap dapur agar tetap ngepul.
Guru yang konsentrasi bekerja, tentunya akan dapat menghasilkan mutu yang bagus disamping tentunya tetap didukung oleh kurikulum yang tetap. Sebab bisa saja terjadi guru yang berada jauh dipedalaman tidak mengetahui lagi adanya perubahan sehingga otomatis tertinggal jauh akibatnya mutu pendidikan jadi timpang. Mungkin saatnya para orang pintar di Indonesia memikirkan mulai sekarang untuk menentukan takaran baku kurikulum ini sehingga kita bisa terangkat dan bukan menjadi pecundang terus. Ingat, kita masih berada di bawah negara Vietnam. Negara yang baru pulih dari luka perang, sedangkan kita katanya sudah lama merdeka tapi masih asyik cuma mengutak atik yang sudah lama seperti anak yang menderita autis, asyik dengan dirinya sendiri tanpa menghiraukan orang lain yang penting asyik sendiri dan bisa meninggalkan sesuatu....kelak.
read more...

artikel pendidikan

PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru


Judul: PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): Muh. Syukur Salman
Saya Guru di Parepare
Topik: PAKEM
Tanggal: 30 Desember 2008
Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka tak bisa ditawar keharusan untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama sekali yang bersentuhan langsung dengan kemajuan Iptek itu sendiri, yakni Pendidikan. Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan "mutasi" kearah yang positif demi mendukung sinergitas dengan kemajuan tadi. Pembelajaran di dalam kelas sebagai suatu sub system yang sangat penting dalam pendidikan tak ayal harus berbenah juga.

Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran gencar ditelorkan demi menghasilkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Salah satu yang sangat gencar diperkenalkan dan dilatihkan adalah Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (Pakem). Hakikat Pakem sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu Pakem sangat memperhatikan keinginan atau kegemaran anak, yakni bermain. Pembelajaran diolah sedemikian rupa sehingga terdapat unsur permainan di dalamnya. Mulai pembelajaran dalam bentuk lomba, kerjasama atau diskusi, sampai pembelajaran yang dilakukan di luar kelas.

Kemunculan Pakem sebenarnya disebabkan adanya indikasi bahwa siswa jenuh terhadap pembelajaran yang selama ini diterapkan. Pembelajaran yang monoton (tidak kreatif), hanya mendengarkan guru berceramah (pasif, tidak aktif), kurangnya transfer ilmu yang dapat bertahan lama pada siswa (tidak efektif), dan terakhir tentu saja sangat membosankan (tidak menyenangkan). Demikianlah nuansa pembelajaran yang kebanyakan dilakukan oleh guru selama ini. Pembelajaran yang demikian itu, yang selama ini banyak dilakukan, disebutlah sebagai pembelajaran konvensional.

Jika kita berbicara tentang pembelajaran yang konvensional, maka akan terasimilasi pada pembelajaran yang negatif, dalam arti sebaiknya tidak dilakukan lagi. Jika kita bertanya kepada seorang guru atas pilihannya antara Pakem dan pembelajaran yang konvensional tadi, maka dapat dipastikan jawabannya akan memilih Pakem, meskipun nyata-nyata dalam keseharian di sekolah, guru tersebut mempraktekkan pembelajaran yang konvensional tadi. Jika kita kembali menanyakan tentang "keengganannya" mengaplikasikan Pakem, maka dapat saja dia mengatakan bahwa tanpa Pakem pun pembelajaran dapat terlaksana dan lebih mudah pelaksanaannya.

Bukan karena ketidaktahuan mereka terhadap aplikasi Pakem di kelas, tapi lebih disebabkan unsur mudah dan sukarnya pembelajaran itu diterapkan. Lalu, mengapa pembelajaran yang "konvensional" tadi mudah diterapkan dan Pakem terasa sangat sulit untuk diaplikasikan? Sesuatu yang selalu atau berulang-ulang kita lakukan pastilah akan terasa mudah bagi kita untuk mengerjakannya. Hal ini pulalah yang terjadi pada pembelajaran yang dikatakan konvensional tadi. Hampir setiap hari guru melakukan pembelajaran dengan teknik dan metode yang begitu-begitu saja, maka terasa kemudahan dalam penerapannya. Sedangkan Pakem, mendengarnya saja mungkin ada di antara guru kita yang sudah membayangkan kesulitan yang dihadapi nantinya di kelas.

Jika kita kembali untuk mengamati secara lebih teliti pembelajaran yang selama ini menjadi kegandrungan guru dalam menerapkannya, maka akan membuat kita bertanya-tanya, dimana fungsi didaktik dan metodik yang selama ini kita sebagai guru telah fahami dalam pendidikan keguruan, karena tanpa unsur didaktik dan metodik sekalipun pembelajaran konvensional tadi dapat terlaksana. Jika demikian, pada akhirnya akan kita sepakati bahwa meski bukan seorang guru sekalipun pembelajaran yang konvensional tadi, akan dapat terlaksana. Lalu, dimana profesionalitas kita sebagai guru? Kemana kemampuan lebih kita dalam proses pembelajaran dibanding yang bukan guru? Apa hanya dengan memikirkan mudah dan sukarnya penerapan itu, kita korbankan identitas guru kita?

Mari kita tarik benang merah terhadap persoalan di atas. Bahan kita adalah, bahwa Pakem sebenarnya bukanlah pembelajaran yang benar-benar baru bagi guru. Sejak dalam penggodokan di sekolah keguruan kita telah menerima berbagai kiat dalam menggairahkan suasana kelas sehingga siswa belajar atau kemauannya sendiri dan pada akhirnya pengetahuan yang diperolehnya akan bertahan lama. Selain itu, guru tentu lebih banyak tahu teknik dalam menggairahkan siswa dalam proses pembelajaran. Hanya dengan sedikit berpikir (sesuatu yang harus selalu ada pada diri guru) mereka akan mampu menemukan sinkronisasi antara materi yang akan diajarkan dengan teknik yang menggairahkan siswa (Pakem). Lalu, bagaimana kita dapat menerima tantangan bahwa teknik konvensional tadi lebih mudah? Gampang! Jadikan Pakem menjadi pembelajaran yang konvensional, maka jadilah dia (Pakem) itu mudah dilaksanakan. Mulailah hari ini kita terapkan Pakem di kelas kita. Sulit? Bulatkan tekad kita untuk menjadi guru yang benar-benar guru, sehingga kesulitan yang memang biasa dialami jika awal kita melaksanakan tidak akan terasa. Esok hari dan seterusnya, Pakem menjadi pilihan utama kita dalam pembelajaran di kelas, maka jadilah Pakem sebagai pembelajaran yang Konvensional.

Pakem sebagai pembelajaran konvensional tentu saja tidak lagi terkesan negatif, justru akan lebih baik. Pakem dianggap oleh guru sebagai pembelajaran yang mudah direalisasikan dalam pembelajaran di kelas bahkan setiap hari sekalipun. Pakem sebenarnya meneguhkan identitas kita sebagai guru. Seorang guru harus mampu memilih atau berkreasi sendiri atas metode yang akan dilaksanakan sehingga proses trasfer pengetahuan berjalan dengan baik. Guru harus mampu memanfaatkan atau membuat sendiri peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran demi perhatian siswa dan lebih memudahkan konsep materi yang akan ditransfer. Guru harus mampu mengelola kelas agar bergairah dan menyenangkan siswa. Kesemua kemampuan itu tentu saja hanya dapat dipunyai dan diaplikasikan oleh seorang guru. Oleh karena itu mari kita mantapkan identitas kita sebagai guru dengan mengaplikasikan Pakem sebagai pembelajaran konvensional yang kita gandrungi. Sekian
read more...